Oleh : Hani Fatma Yuniar
Segala urusan di dunia ini sungguh tak ada yang luput dari campur tangan Alloh SWT, hatta perkara sehelai daun yang jatuh dari tangkainya pun, Alloh lah yang mentakdirkannya demikian…
Bahkan Skenario takdir yang dibuat oleh Alloh SWT seringkali fantastis, tak terjangkau oleh akal pikiran manusia. Namun di akhir kisah dari setiap skenario takdir yang diputuskan-Nya selalu ada hikmah yang manis, ending cerita yang begitu indah, setelah melewati ‘adegan-adegan’ yang sulit, terjal, hingga berderai-derai luka dan airmata… Dengan cara itulah Alloh SWT mengangkat derajat hamba-hamba-Nya…, menjadikan kita lebih dekat dengan-Nya, merasakan diri ini begitu kecil tanpa pertolongan dan uluran tangan-Nya…
Dahulu saya memiliki seorang sahabat yang sangat manis. Saya mengenalnya sejak SMA, dan Alloh mentakdirkan kami tetap bersama-sama hingga jenjang kuliah, dia memilih jurusan yang sama dengan saya. Dia adik kelas saya, namun usia kami hanya terpaut dua bulan saja. Sejak SMA saya sudah menyayanginya, lebih-lebih saat kuliah, rasa sayang saya semakin bertambah padanya. Dia selalu ada saat saya membutuhkannya, dan dialah orang yang saya percaya untuk mendengarkan ide-ide dan pemikiran saya, dia pula yang mendukung dan membantu saya untuk mewujudkan ide-ide tersebut.
Sejak SMA kami telah aktif dalam organisasi kerohanian Islam di sekolah kami. Begitupun saat kuliah, kami dipertemukan lagi dalam organisasi yang sama. Terasa indah kebersamaan yang kami miliki, karena kami tengah menyemai ukhuwah cinta di jalan-Nya, jalan dakwah yang selalu mengalirkan semangat dalam dada kami, menghadirkan cinta yang hanya berlandaskan akidah, hingga manisnya iman dan Islam tersematkan dalam hati-hati kami…
Betapa sayang saya padanya, dan betapa sayangnya dia pada saya. Meski sesungguhnya ruang dan waktu tak begitu akrab dengan kami berdua. Jarang kami menghabiskan waktu untuk sekedar makan siang bersama atau jalan-jalan santai berdua. Yang kerap mempertemukan kami justru agenda-agenda dakwah yang demikian padatnya. Mulai rapat jam 6 pagi, pelatihan kaderisasi, hingga aksi di Grahadi. Namun saat Alloh berkenan untuk menghimpun hati-hati kami dalam naungan cinta-Nya, maka sesungguhnya tak ada ukhuwah yang lebih indah dari ukhuwah yang tengah kami retas bersama sahabat-sahabat tercinta kami ini. Ukhuwah cinta yang mudah-mudahan kelak menjadi syafaat untuk menolong kami di yaumil hisab…
Suatu ketika, kami menyelenggarakan sebuah pelatihan di pesantren Lawang. Di sana, sahabat saya itu menyampaikan sebuah kabar gembira tentang rencana pernikahannya, hanya pada saya. Subhanalloh, saya sungguh sangat bahagia untuknya, dan sore itu kami habiskan bersama dengan duduk-duduk di sebuah persawahan belakang pesantren. Menikmati semilirnya angin, sejuknya hamparan padi nan hijau, bersama kami senandungkan Satu Rindu…
Tak terasa hari pernikahannya pun tiba. Kami semua memanjatkan doa agar pernikahannya senantiasa barokah…
Sejak saat itu, kami semakin jarang bertatap muka. Saya tenggelam dalam kesibukan saya menyelesaikan skripsi dan amanah baru saya di senat kampus. Jika sesekali kami bertemu saat sholat berjamaah di masjid kampus, seringkali saya menyuruhnya pulang demi melihat wajahnya yang kelihatan kelelahan karena hamil muda.
Menjelang Ramadhan, skripsi saya telah siap diuji dan hari itu juga saya dinyatakan lulus dengan nilai yang amat menggembirakan saya. Saya juga langsung diterima saat melamar pekerjaan di Nurul Hayat. Alhamdulillah, hanya Alloh yang kuasa memberikan kemudahan seperti ini, saya habiskan Ramadhan kali ini dengan penuh ketenangan dan rasa syukur…
Idul Fitri pun akhirnya tiba, seperti biasa, ada acara Halal bi Halal yang diselenggarakan untuk ajang silaturrahim dan penguatan iman pasca Ramadhan. Dalam acara tersebut, saya berharap bisa bertemu dengan sahabat saya yang manis ini. Saya menantikan kedatangannya, hingga saya dikejutkan oleh banyaknya SMS dan telepon yang masuk ke HP saya. Serasa disambar petir saat saya mendengar kabar bahwa sahabat saya yang sedang hamil 4 bulan tersebut, beberapa jam yang lalu telah syahid menghadap Alloh SWT. Saya tinggalkan acara tersebut dengan berderai air mata, saya pun berwudhu dan bergegas menuju rumahnya bersama teman-teman saya yang lain…
Sesampainya disana, saya ciumi jenazahnya masih dengan mata basah. Bersama teman-teman putri, saya memimpin untuk menshalatinya…
Sampai di rumah, saya masih diliputi suasana duka. Lantas saya teringat pada foto-foto pernikahannya yang diberikan pada saya saat Ramadhan. Foto-foto itu belum sempat saya buka sebelumnya, dan kali ini adalah saat yang tepat untuk membukanya. Karena saya tengah merindukannya…
Saya amati wajahnya juga wajah-wajah keluarganya satu persatu. Tak terasa air mata saya kembali mengalir. Subhanalloh, belum genap lima bulan keluarga ini menyelenggarakan pernikahan putra-putrinya. Tentu, ada banyak hikmah dibalik keputusan-Mu ini ya Alloh…
Hari berganti bulan, dan bulan pun mulai menginjak berganti tahun. Tak terasa tinggal beberapa bulan kita sudah akan bertemu dengan Ramadhan lagi…
Di sela-sela kesibukan saya bekerja di NH, tiba-tiba HP saya berdering. Bergetar hati saya saat membaca sebaris pesan yang dikirim oleh guru ngaji saya. “Dek, bersediakah menerima pinangan dari seorang ikhwan yang istrinya telah meninggal…”
Subhanalloh, entah kenapa pikiran saya langsung tertuju pada seseorang. Seketika mata saya basah, semalaman saya tak bisa tidur, air mata saya tak berhenti mengalir. Qiyamul lail pun saya dirikan dengan terbata-bata. SMS itu belum saya balas…
Lama saya terombang-ambing dalam kegelisahan. Padahal saya belum bertanya siapa nama ikhwan tersebut, namun hati saya terlalu yakin bahwa tebakannya tidak mungkin keliru. “Bagaimana mungkin saya menikah dengan suami sahabat saya sendiri?”, bisik hati saya…
Namun semakin keras saya menolaknya, saya semakin sadar bahwa Alloh sedang membimbing saya untuk mentaati perintah-Nya. “InsyaAlloh ikhwan ini sholih, tidak ada yang salah dengan dirinya”, ucap Ustadzah saya saat itu, berusaha meyakinkan saya…
Ya, dan tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menerimanya. Maka saya mencoba menjalani skenario cinta yang dibuatkan oleh Alloh untuk saya. Saya pelajari biodata ikhwan tersebut, dan tepat pekan pertama Ramadhan kami dipertemukan dalam proses ta’aruf yang sangat singkat. Ternyata hati saya kian mantab untuk menerimanya.
Setelah kedua keluarga besar kami bertemu dan saling merestui, pada suatu Syawal yang fitri diikrarkanlah mitsaqon ghalidza oleh ikhwan tersebut yang saat ini telah menjadi suami saya…
Subhanalloh, sungguh saya sangat bahagia menjadi istrinya. Dialah laki-laki terbaik yang telah dipilihkan Alloh untuk menjadi suami saya…
Kini kami tengah menunggu kelahiran putra pertama kami yang telah genap 8 bulan dalam kandungan saya… Sebagaimana Alloh telah mempertemukan kami di dunia, semoga kelak Alloh berkenan mengumpulkan kami kembali di jannah-Nya. Aamiin ya Robbal alamiin…
0 komentar:
Posting Komentar