Oleh : Amin Justiana
Suatu senja, Tia sedang menanti suaminya. Biasanya jam 5 sore suaminya telah tiba di rumah. Namun kini sudah jam 6 sore, suami tercinta tak kunjung datang. Hati pun resah, pikiran mulai tak tenang. ”Ada apa gerangan ?” Seiring dengan waktu yang terus berjalan, keresahannya makin memuncak. Tiba-tiba terdengar HP berbunyi tut…tut… Ada SMS masuk. ”Bu, bapak pergi dengan Sri.” Blaarr! Terasa disambar petir di siang bolong. Pikiran dan perasaan Tia bercampur aduk. Terkoyak. Pukul sembilan sudah. Tiba-tiba, tok…tok… pintu diketuk dari luar. Tak seperti biasanya, pintu dibuka dengan kasar. Tanpa basa-basi, Tia langsung menumpahkan kekesalannya pada suaminya. Sang suami tak berucap sedikitpun. Tertunduk. Tia semakin berang. Tak seberapa lama pandangan Tia terarah pada tangan dan kaki suaminya yang diperban. ”Lho, kenapa?” Ternyata suami datang terlambat karena mengalami kecelakaan. Tut…tut… HP berbunyi. Di SMS tertulis, ”Maaf, saya tadi salah kirim.” Oh, hati Tia pun luluh, air mata merembes dari kedua matanya. Tanda penyesalan.
Kejadian di atas merupakan satu bentuk kegundahan dan emosi yang memuncak dan kadang tak terkendali. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup hubungan suami-istri, tapi dapat terjadi pula dalam hubungan orang tua dan anak, dalam bertetangga, maupun dalam bermuamalah. Banyak hal yang dapat memicu munculnya kegundahan. Namun yang jelas tak terkendalinya emosi disebabkan oleh kearifan jiwa yang lemah.
Mengelola Kearifan Jiwa
Kearifan jiwa itu indah. Sayangnya, saat hati sedang gundah kearifan jiwa kadang tak muncul. Berikut adalah hal yang harus dilakukan dalam mengelola kearifan jiwa kita:
1. Jangan berprasangka. Buruk sangka adalah salah satu pangkal ketidakarifan jiwa. Bukankah Alloh SWT berfirman, yang artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…” (QS. Al-Hujurat : 12). Waspadai sikap terburu-buru mengambil keputusan tanpa terlebih dahulu mengecek kebenaran fakta. Karena hal ini dapat menjerumuskan kita dalam prasangka.
2. Pahami sudut pandang orang lain. Barangkali Anda pernah mengalami kejadian semisal ini. Dua hari sudah, Riana sibuk dengan berkas-berkas yang harus ditandatanganinya. Hingga suatu sore, Riana terkejut mendapati banyak coretan pada berkas-berkasnya. Pikirannya langsung tertuju pada Andi, anak sulungnya yang masih berusia 5 tahun. Kemarahan pun tak terbendung lagi. Pelototan mata, cacian, bahkan hampir saja ia memukul anaknya. Sementara itu, Andi tertunduk merasa bersalah. Satu jam kemudian, Riana segera tersadar. Didekatinya Andi dan bertanya,” Kakak, kenapa mencoret kertas-kertas ibu ?” Awalnya, Andi tidak berani bicara. Setelah ditanya tiga kali dengan lembut, barulah ia menjawab, ”Aku hanya ingin membantu ibu. Kasihan ibu, pasti capek karena pekerjaan ini.” Riana memeluk sang anak, air matanya tak terasa keluar. Dan iapun berkata, ”Maafkan ibu, karena tergesa memarahimu. Mestinya ibu bertanya dulu padamu.”
Bila seorang anak kecil saja memiliki pandangan tertentu, maka sangat mungkin manusia manapun memiliki hal serupa. Jangan biarkan hidup kita dalam kelana berpikir sendiri. Orang bilang itu namanya egois!
3. Sabar, tahan emosi. Anas bin Malik berkata,” Ketika kami sedang duduk di masjid bersama Rosululloh SAW, tiba-tiba datang seorang Badui. Lalu, ia kencing di masjid. Para sahabat segera menghardiknya. Berbeda dengan itu, Rosululloh malahan bersabda,” Janganlah kalian ganggu dia. Biarkan dia menyelesaikan hajatnya.” Sahabat akhirnya membiarkannya. Baru kemudian Rosululloh SAW menasihatinya,”Masjid ini tidak pantas dikencingi dan dikotori. Masjid adalah tempat untuk berdzikir, untuk sholat dan membaca al-Quran.” Rasul pun memerintahkan seseorang untuk menyiram bekas kencing tadi.” (HR Muslim)
Bila sikap yang diambil didasarkan pada emosi, boleh jadi kencing tetap dilakukan karena terlanjur, tapi si Badui itu tidak paham bagaimana seharusnya bersikap di masjid. Percayalah, seorang yang emosional tidak menjadi penyabar. Pikiran pun tertutup karenanya. Pencegahan sikap emosional adalah dengan cara menghindari penyebab-penyebabnya, antara lain : sombong, kagum pada diri sendiri, angkuh dan bercanda tidak pada tempatnya.
4. Berpikir matang. Berpikir matang berarti memikirkan akibat segala persoalan sebelum bertindak. Berpikir matang berarti berwawasan ke depan. Berpikir matang berarti menggunakan kaidah ”Berpikir sebelum berbuat demi meraih tujuan tertentu.” Tanpa berpikir matang, kehidupan akan sarat dengan penyesalan. Kerugian pun segera berdatangan. Di samping resiko yang akan ditanggung tidak dapat diprediksi.
5. Introspeksi diri. Tanpa introspeksi, tiap orang akan merasa benar sendiri, yang lain salah. Tanpa introspeksi tidak akan ada dialog dan musyawarah. Dan hanya dengan introspeksi, kesadaran akan kekurangan dan kelemahan diri akan ditemukan. Rasulullah saw. sendiri mencontohkan introspeksi. Ketika meletus perang Badar, Rosul menempatkan pasukannya jauh di belakang sebuah sumur. Melihat hal ini, Hubbab bin al-Mundzir bertanya,”Wahai Rosululloh, apakah ini wahyu atau sekedar pendapatmu?” Lantas beliau pun menjawab,”Ini pendapatku.” Hubbab kemudian mengusulkan untuk menempatkan pasukan di depan sumur, sehingga mereka dapat menguasai sumur tersebut dan menimbunnya jika pasukan Quraisy menyerang, hingga masuh tidak dapat mengambil airnya. Rosululloh pun setuju. Kalau Rasulullah SAW dalam masalah teknis tersebut berani merubah pendapatnya dengan pendapat yang lebih kuat, mengapa kita masih kukuh tak mau berintrospeksi? Aneh, bukan ? Tanpa introspeksi berarti kita telah menutup perbaikan atas kekurangan diri kita sendiri. Siapakah yang rugi ? Ya benar, kita sendiri. Bukan orang lain.
Satu hal yang perlu dicamkan, kearifan tidak diperdagangkan. Dia harus diupayakan sendiri. Melaksanakan kelima hal tersebut, tidak berarti kita harus mengikuti arus pendapat orang lain. Sebagai muslimah, kita harus konsisten dalam keyakinan namun lembut dalam sikap keseharian.
0 komentar:
Posting Komentar